Sunday, September 15, 2013

Contemporary Feminism Thoughts

"Every day we learn something new"

 Quote yang cocok buat kita-kita yang penasaran dan ngga ada kerjaan di hari minggu sore ini. Well, hari ini Jayapoken mau berbagi sepenggal pemikiran baru dari pakar-pakar feminis kontemporer. Mereka merasa teori-teori feminis terdahulu, khususnya teori feminis 'first wave' dan 'second wave' sudah tidak cukup lagi untuk menganalisa kondisi budaya, sosial, politik dalam era globalisasi ini. Jika dulu ada gerakan feminisme terbagi menjadi tiga, yaitu sosialis, radikal, dan liberal, maka sekarang muncul gerakan feminis baru yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran post-struktualis dan post-modernisme, yaitu  feminisme dekonstruksi.
Para pakar feminisme dekonstruksi ini, memberikan kritik terhadap pemikiran feminisme tentang universalitas kata "women". Karena menurut mereka, akan sangat sulit untuk menggenaralisasikan kata "women" yang mengekspresikan pengalaman dari perempuan-perempuan Barat.
Pertanyaannya, "bagaimana perempuan-perempuan non-Barat, seperti Asia, Afrika?" apakah pengalaman mereka sama dengan perempuan-perempuan Barat? 
Maka, para penggerak feminisme dekonstruksi ini mencoba menganalisa kondisi ini dengan cara mendekonstruksi teori-teori feminisme tahun 1970-an yang notebene monopoli dari pemikiran Barat. Sebelum membahas lebih lanjut, Jayapoken akan memberikan Skema konsep keberadaan manusia yang disadur dari esai Moira Gatens berjudul "Power, Bodies and Differance (1992, 120-137).

Conceptualisizing Human Existence

Dominant social-political theories is a commitment of the dualism
central to Western Thought:

Nature --- Culture
Body --- Mind
Passion --- Reason
 

In the realm of social and political theory, as distinction between:
Reproduction --- Production
The Family --- The State
The Individual --- The Social 

Bagian sebelah kiri adalah konsep-konsep yang sangat dekat dengan feminitas. Sedangkan, bagian kanan sangat dekat dengan maskulinitas. Dengan kata lain, perempuan dikarakteristikkan lebih dekat dengan body, passions, reproduction, family, dan individual. Gatens menyebutkan sebagai karakteristik "as timeless and unvarying aspects of nature". Kemudian, karakteristik seperti Mind, reason, Social Production, the state, dan the social, adalah konsep-konsep yang dekat dengan laki-laki yang menunjukkan kedinamisan dan perkembangan. Jadi, berdasarkan pemikiran dualisme pemikiran Barat ini, perempuan dikarakteristikkan sebagai mahluk yang tidak memiliki sejarah dan reproduksi dari pengulangan kehidupan sehari-hari.
Nah, pemikiran dualisme Barat inilah yang ingin didekonstruksi oleh para feminis kontemporer. 

Disadur dari buku kumpulan esai berjudul Destabilizing Theory, diedit oleh Michele Barrett dan Anne Philip


Wednesday, September 11, 2013

Kejadian mengharukan dari AFA 2013

Sekalipun JAYAPOKEN tahun ini tidak meliput Anime Festival Asia Indonesia 2013 (AFA.ID 2013) secara langsung...
Ada berita di internet yang cukup mengharukan.
Seseorang bernama Kei Sawada (seorang blogger dengan nickname SawaK)
kehilangan bonekanya di tengah-tengah keramaian.
Menurut pengakuannya, ribuan orang di AFA (ini harfiah) membantu mencarikan boneka tersebut dan pada akhirnya ditemukan. Ia pun berterima kasih kembali dengan amat menyentuh hati.
Kisah selengkapnya bisa dibaca di sini.

Betapa eratnya ikatan antar manusia ketika disatukan oleh sebuah common interest,

Tiba-tiba teringat bacaan tentang "Imagined Communities" yang ditulis Benedict Anderson.
Stuart Hall juga pernah mengunakan teori Imagined Communities ini dalam konteks pembentukan negara dalam tulisannya (Di sini Hall menulis tentang penduduk Karibia yang menganggap diri mereka sebagai New African, walah.. Afrika bagian mana tuh yang dimaksud? Silakan baca lebih lanjut) Bayangkan anda warga Indonesia yang belum pernah pergi ke daerah sejauh Papua, misalnya. Sadarkah kalau kita selama ini membayangkan Papua bagian dari Indonesia lewat peta, saudara-saudara?

Lucunya, kalau imagined communities menurut Anderson adalah komunitas yang 'dibentuk' secara sosial, komunitas yang mencarikan boneka Sawada di AFA ini -Orang-orang yang melihat berita itu di poster punggung atau di manapun- secara sukarela membantu, bahkan tak mengharap Sawada (ketika boneka telah ditemukan) untuk membayar mereka. Hmmm, terbentuk begitu saja, bukan cuma kalangan pecinta budayanya. Mereka membentuk diri sendiri? Masa sih 'dibentuk' pula oleh ruang dan waktu yang bernama Anime Festival Asia ?  Hee...

Lagi-lagi menunjukkan kalau teori-teori dalam cultural studies harus diramu dulu ketika ruang dan waktu terapannya berubah, dan ketika diterapkan bisa sedikit berubah dari ruang waktu dan kondisi awal teori ini dikemukakan. Ada kemungkinan yang amat tinggi untuk melahirkan teori baru, dan keanehan kemanusiaan pun setidaknya (hampir) bisa dijelaskan...


https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-frc3/1175540_10151712319867839_1568435502_n.jpg

Wednesday, September 4, 2013



Sebuah tulisan biasanya sulit untuk disebut ‘tepat’, alih-alih ia diharapkan untuk menjadi ‘indah’. Kesesuaian antara ide utama dan kata-kata yang disampaikan oleh penulis pada pembacanya merupakan kunci utama dari keindahan sebuah tulisan. Sebetulnya bisakah cara-cara menulis yang baik diajarkan ketika semesta tulisan itu sendiri begitu misterius, luas dan dalam? Pertanyaan ini merupakan jawaban yang menengahi beragam alasan orang-orang dalam menilai sebuah tulisan.

Apapun yang kita tahu mengenai tulisan juga berlaku dalam cara berbicara kita. Runtun kalimat merupakan keharusan yang mutlak bila seorang penutur; dalam hal ini seorang penulis ingin menyampaikan idenya secara tepat pula kepada lawan bicaranya.

Semua bermula dari sesuatu yang sederhana. Jika dimulai dari sesuatu yang rumit, seorang penulis biasanya akan menemui kebuntuan dan kesemrawutan dalam apa yang ia tuliskan. Seorang penulis bisa mulai dengan menulis sesuatu yang ia sukai, untuk berlatih menulis. Bagaimanapun, hal-hal yang bersifat teknis seperti halnya tata bahasa, ketepatan ejaan, dan runtun pokok pikiran berpengaruh besar pula dalam pengharapan akan kualitas sebuah tulisan.

Secara ringkas proses menulis dapat dibagi-bagi ke dalam 8 tahap, yaitu:

  • Perencanaan dan pra-penulisan
  • Penyatuan gagasan
  • Riset
  • Penulisan kasar
  • Pengeditan
  • Pembacaan ulang
  • Revisi
  • Penerbitan/ Penyebaran kepada khalayak

 Diringkas dari: 
"Rhetoric and Composition: A Guide for the College Writer" 
Barton, Matthew dkk. 2003-2006, Wikibooks.