Wednesday, September 4, 2013



Sebuah tulisan biasanya sulit untuk disebut ‘tepat’, alih-alih ia diharapkan untuk menjadi ‘indah’. Kesesuaian antara ide utama dan kata-kata yang disampaikan oleh penulis pada pembacanya merupakan kunci utama dari keindahan sebuah tulisan. Sebetulnya bisakah cara-cara menulis yang baik diajarkan ketika semesta tulisan itu sendiri begitu misterius, luas dan dalam? Pertanyaan ini merupakan jawaban yang menengahi beragam alasan orang-orang dalam menilai sebuah tulisan.

Apapun yang kita tahu mengenai tulisan juga berlaku dalam cara berbicara kita. Runtun kalimat merupakan keharusan yang mutlak bila seorang penutur; dalam hal ini seorang penulis ingin menyampaikan idenya secara tepat pula kepada lawan bicaranya.

Semua bermula dari sesuatu yang sederhana. Jika dimulai dari sesuatu yang rumit, seorang penulis biasanya akan menemui kebuntuan dan kesemrawutan dalam apa yang ia tuliskan. Seorang penulis bisa mulai dengan menulis sesuatu yang ia sukai, untuk berlatih menulis. Bagaimanapun, hal-hal yang bersifat teknis seperti halnya tata bahasa, ketepatan ejaan, dan runtun pokok pikiran berpengaruh besar pula dalam pengharapan akan kualitas sebuah tulisan.

Secara ringkas proses menulis dapat dibagi-bagi ke dalam 8 tahap, yaitu:

  • Perencanaan dan pra-penulisan
  • Penyatuan gagasan
  • Riset
  • Penulisan kasar
  • Pengeditan
  • Pembacaan ulang
  • Revisi
  • Penerbitan/ Penyebaran kepada khalayak

 Diringkas dari: 
"Rhetoric and Composition: A Guide for the College Writer" 
Barton, Matthew dkk. 2003-2006, Wikibooks.