Tuesday, March 18, 2014

Toys Fair 2014

Generasi muda, bahkan ketika ia beranjak 'tua', akan selalu ingat pilihan-pilihan yang disodorkan padanya di masa lalu, untuk kemudian ia rayakan dengan nostalgia, sekalipun ada pula tujuan praktis untuk mengisi pundi-pundinya. Hal ini terlihat dari kalangan dewasa perkotaan yang ambil bagian merayakan Toys Fair di Balai Kartini, Minggu 16 Maret 2014 lalu. Di samping jaringan bisnis lengkap dengan penjualan tiket masuk dan kasir-kasir yang memang jadi andalan acara ini untuk tetap diadakan secara berkala, terlihat pula hal yang hampir-hampir tak kasat mata dan hanya dapat dibuktikan jika kita mau menggali lebih dalam.
Narasi budaya populer asing yang sekarang mendominasi generasi muda tampaknya arusnya tetap deras. Buktinya, berbagai karakter fiksi yang diciptakan dari benak pengarang-pengarang yang nun jauh di sana, mewujud jadi action figure yang harganya selangit, namun tetap dibeli dan dipajang. Apa yang bisa memicu dan melestarikan hal ini? Tidakkah hal ini berakar pada warisan ingatan dari generasi-generasi sebelumnya yang, bahwa apapun yang berasal dari luar negeri adalah hal yang superior? Sekilas, akar sejarah negeri yang dinamakan Indonesia ini, saat bersinggungan dengan bangsa asing selalu terkesan kurang beruntung. Entah terhimpit deraan kongsi-kongsi dagang, pemerintah koloni, kekaisaran yang mencoba merangkul bangsa-bangsa di Asia sebagai 'saudara jauh'-nya, perusahaan-perusahaan modern yang tawarannya begitu menggiurkan, maupun rezim-rezim pemerintah anak negeri sendiri yang memancing di air keruh.
Akan tetapi kini sepertinya sedang terjadi semacam dialog. Memang ada kalangan yang menolak tegas-tegas, namun orang tidak bisa menampik bahwa ada banyak pula kalangan yang merangkul budaya asing ini dengan tangan terbuka lebar, bahkan mengakui inilah jatidirinya. Kita bisa mulai melangkah dari sisi positifnya, untuk melihat sisi lain. Sisi di mana generasi muda sepertinya selalu berbenah di tengah narasi asing yang ada untuk menengahi warisan ingatan di masa lalu tersebut dengan pola tiru-lalu kembangkan. Ketika tak ada budaya nasional yang cukup jelas (dan terwariskan dengan kuat untuk membangun jatidiri generasi muda ini) untuk diadopsi, maka jatidiri 'lain' yang bergentayangan bebas di dunia penuh pilihan saat ini akan menjadi sandaran yang kokoh. Hal yang lumrah, bagi generasi muda manapun yang butuh identitas. Namun untuk kita yang berpikir, mungkin memang sebaiknya mulai menggambar dan melihat 'peta pilihan' menuju masa depan kita sendiri. Jika solusi terlalu mahal untuk dicari, maka mungkin memang hal gratisan di depan mata (yang terlihat di 'peta' ini) adalah pilihan utama untuk mulai dicicipi.